Metafor
flickr:2274698946

CUPLIKAN pidato Nobel Muhammad Yunus:
“…poor people are like bonsai trees. When you plant the best seed of the tallest tree in a flower-pot, you get a replica of the tallest tree, only inches tall. There is nothing wrong with the seed you planted, only the soil-base that is too inadequate. Poor people are bonsai people. There is nothing wrong in their seeds. Simply, society never gave them the base to grow on. All it needs to get the poor people out of poverty for us to create an enabling environment for them. Once the poor can unleash their energy and creativity, poverty will disappear very quickly.”

“…orang miskin itu seperti pohon bonsai. Manakala Anda menanam bibit terbaik dari pohon tertinggi dalam pot kembang, Anda pun mendapat replika dari pohon tertinggi itu, namun tingginya hanya sekian inchi. Tak ada yang salah dengan bibit yang Anda tanam, hanya lahannya saja yang sama sekali tidak memadai. Orang miskin itu orang bonsai. Tak ada yang salah dengan bibitnya. Sederhana saja, masyarakat tak pernah memberi mereka lahan untuk bertumbuh kembang. Yang diperlukan untuk membuat masyarakat miskin keluar dari kemiskinan adalah menciptakan lingkungan yang memberdayakan mereka. Begitu kaum miskin bisa melejitkan energi dan kreativitas mereka, kemiskinan akan lenyap dengan cepat.”


Muhammad Yunus, aktivis pengentasan kemiskinan dari Bangladesh, memberi perumpamaan pohon bonsai bagi orang miskin. Teknik semacam ini disebut sebagai Metafor. Metafor mempunyai kekuatan untuk menyederhanakan, mempopulerkan, atau meringankan. Sebuah jalinan gagasan yang berat, informasi yang rumit berbelit-belit bisa menjadi gampang dimengerti. Metafor bahkan dipakai sebagai salah satu metode pengajaran Zen, serta tradisi kearifan di berbagai masyarakat. Simak kisah berikut:

Ketu dikirim ke seorang guru saat berusia 12 tahun, dan belajar di sana sampai usianya 24 tahun. Selesai masa belajar, ia pulang kembali dengan rasa bangga.
Ayahnya bertanya: “Bagaimana kita bisa tahu apa yang tak terlihat? Bagaimana kita bisa tahu bahwa Tuhan Maha Besar ada di mana-mana?”
Ketu mulai membacakan ayat-ayat suci, namun ayahnya menyela: “Terlalu menyulitkan. Tidak adakah jalan lebih mudah untuk mengetahui keberadaan Tuhan?”
“Sejauh yang aku tahu tidak ada, Yah. Kini aku seorang terpelajar, aku butuh pengetahuan ini demi menjelaskan rahasia kebijaksanaan ilahi.”
“Ternyata aku hanya menghabiskan waktu dan uang mengirimmu ke biara,” keluh sang ayah. Lalu menggandeng tangan Ketu menuju dapur. Di sana dia mengisi sebuah baskom dengan air, dan menaburkan garam ke dalamnya. Kemudian mereka pergi berjalan-jalan ke pusat kota.
Ketika pulang, sang ayah menyuruh Ketu: “Ambilkan garam yang aku taruh di baskom.”
Ketu mencari namun tak menemukannya, karena garam telah larut di dalam air.
“Jadi kamu tidak bisa lagi melihat garamnya?” tanya sang ayah.
“Ya, garamnya tak terlihat.”
“Kalau begitu cicip sedikit air di atas baskom ini. Bagaimana rasanya?”
“Asin!”
“Cicip air di bagian tengahnya. Bagaimana?”
“Sama seperti yang permukaan, asin!”
“Sekarang cicip sedikit yang di dasar baskom. Apakah juga asin?”
Ketu mencicip, dan rasanya sama seperti yang sudah-sudah.
“Kamu telah belajar bertahun-tahun namun tak bisa menjelaskan secara sederhana bagaimana Tuhan Maha Gaib sebenarnya ada di mana-mana,” simpul sang ayah. “Hanya dengan sebaskom air dan garam, aku bisa membuat orang-orang kampung mengerti. Anakku, lebih baik mencoba melupakan pengetahuan yang menjauhkan kita dari pengertian orang-orang, gali kembali inspirasi yang mendekatkan kita padanya.”

Salah satu rumus kreatif untuk membiasakan metafor adalah meng-ekstrimasi sifat atau perilaku menonjol dari alam non manusia (benda, tumbuhan atau binatang), kemudian menyamakan atau membandingkannya baik bertendensi positif maupun negatif dengan sifat dan perilaku manusia. Banyak yang sudah akrab di telinga kita, misal:
- Anjing = penjilat; setia kepada majikan
- Kucing = pemalas
- Bebek = kompak; tertib/antri
- Kerbau (kerbau dicocok hidung) = patuh membabi buta

Tantangannya adalah bagaimana membuat metafor yang tidak umum, fresh, tepat sasaran, reflektif dan bahkan humoris! (PUF)

Page tags: kreatif metafor zen
Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License